Sajak-Sajak Terbaik Amir Hamzah | tretan.net

You are here: Homepage » Biografi Tokoh » Sajak-Sajak Terbaik Amir Hamzah

Sajak-Sajak Terbaik Amir Hamzah

January 26th, 2012 0 Comments

Sebelumnya, saya telah memposting tentang biografi Amir Hamzah, sastrawan “pujangga baru” kebanggaan negeri ini. Bila  Anda belum membaca Biografi Amir Hamzah, Anda bisa membacanya di  Biografi Amir Hamzah.

Kali ini, ada yang kurang rasanya bila tidak memposting juga karya-karya dari Sastawan Indonesia Amir Hamzah. Berikut ini adalah sajak-sajak terbaik  Amir Hamzah.

 

Sunyi Itu Duka

Sunyi itu duka

Sunyi itu kudus

Sunyi itu lupa

Sunyi itu lampus

 

 

Padamu Jua

 

Habis kikis

Segala cintaku hilang terbang

Pulang kembali aku padamu

Seperti dahulu

 

Kaulah kandil kemerlap

Pelita jendela di malam gelap

Melambai pulang perlahan

Sabar, setia selalu

 

Satu kekasihku

Aku manusia

Rindu rasa

Rindu rupa

 

Di mana engkau

Rupa tiada

Suara sayup

Hanya kata merangkai hati

 

Engkau cemburu

Engkau ganas

Mangsa aku dalam cakarmu

Bertukar tangkap dengan lepas

 

Nanar aku gila, gila sasar

Sayang berulang padamu jua

Engkau pelik menarik ingin

Serupa dara di balik tirai

 

Kasihmu sunyi

Menunggu seorang diri

Lalu waktu bukan giliranku

Mati hari – bukan kawanku ….

 

 

Barangkali

 

Engkau yang lena dalam hatiku

Akasa swarga nipis-tipis

Yang besar terangkum dunia

kecil terlindung alis

 

Kujunjung di atas hulu

Kupuji di pucuk lidah

Kupangku di lengan lagu

Kudaduhkan di selendang dendang

 

Bangkit Gunung

Buka mata-mutira-mu

Sentuh kecapi lirdusi

Dengan jarimu menirus halus

 

Biar siuman dewi-nyanyi

Gambuh asmara lurus lampai

Lemah ramping melidah api

Halus harum mengasap keramat

 

Mari menari dara asmara

Biar terdengar swara swarna

Barangkali mati di pantai hati

Gelombang kenang membanting diri

 

 

Hanya Satu

 

Timbul niat dalam kalbumu

Terban hujan, ungkai badai

Terendam karam

Runtuh ripuk  tamanmu rampak

 

Manusia kecil lintang pukang

Lari terbang jatuh duduk

Air naik tetap terus

Tumbang bungkar pokok purba

 

Teriak riuh redam terbelam

Dalam gegap gempita guruh

Kilau kilat membelah gelap

Lidah api menjulang tinggi

 

Terapung naik jung bertudung

Tempat berteduh nuh kekasihmu

Bebas lepas lelang  lapang

Di tengah gelisah, swara sentosa

 

***

 

Bersemayam sempana di jemala gembala

Duriat  jelita bapakku Ibrahim

Keturunan intan dua cahaya

Pancaran putera berlainan bunda .

 

Kini kami bertikai pangkai

Di antara dua, mana mutiara

Jauhari ahli lalai menilai

Lengah langsung melewat abad.

 

Aduh kekasihku

Padaku semua tiada berguna

Merasa dikau dekat rapat

Serupa Musi di puncak Tursina.

 

 

Permainanmu

 

Kaukeraskan kalbunya

Bagai batu membesi benar

Timbul telangkaimu bertongkat urat

Ditunjang pengacara petah pasih

 

Dihadapanmu lawanmu

Tongkatnya melingkar merupa ular

Tangannya putih, putih penyakit

Kekayaanmu nyata,terlihat terang

 

Kekasihmu ditindasnya terns

Tangan,tapi tersembunyi

Mengunci bagi paten

Kalbu ratu rat rapat

 

Kaupukul raja-dewa

Sembilan cambuk melecut dada

Putera-mula peganti diri

Pergi kembaii ke asal asli

 

Bertanya aku kekasihku

Permainan engkau permainkan

Kautulis kaupaparkan

Kausampaikan dengan lisan

 

Bagaimana aku menimbang

Kaulipu lipatkan

Kaukelam kabutkan

Kalbu ratu dalam genggammu

 

Kauhamparkan badan

Ditubir bibir pantai permai

Raja ramses penaka durjana

Jadi tanda di hari muka

 

Bagaimana aku menimbang

Kekasihku astana sayang

Ratu restu telaga sempurna

Kekasihku mengunci hati

Bagi tali disimpul mati.

 

 

Turun Kembali

 

Kalau aku dalam engkau

Dan engkau dalam aku

Adakah begini jadinya

Aku hamba engkau penghulu?

 

Aku dan engkau berlainan

Engkau raja, maha raya

Cahaya halus tinggi mengawang

Pohon rindang menaung dunia

 

Di bawah teduh engkau kembangkan

Aku berhenti memati hari

Pada bayang engkau mainkan

Aku melipur meriang hati

 

Diterangi cahaya engkau sinarkan

Aku menaiki tangga mengawan

Kecapi firdusi melena telinga

Menyentuh gambuh dalam hatiku

 

Terlihat ke bawah.

Kandil kemerlap

Melambai cempaka ramai tertawa

Hati duniawi melambung tinggi

Berpaling aku turun kembali.

 

 

Karena Kasihmu

 

Karena kasihmu

Engkau tentukan waktu

Sehari lima kali kita bertemu

 

Aku anginkan rupamu

Kulebihi sekali

Sebelum cuaca menali sutera

 

Berulang-ulang kuintai-intai

Terus-menerus kurasa-rasakan

Sampai sekarang tiada tercapai

Hasrat sukma idaman badan

 

Pujiku dikau laguan kawi

Datang turun dari datuku

Diujung lidah engkau letakkan

Piatu teruna ditengah gembala

 

Sunyi sepi pitunang poyang

Tadak meretak dendang dambaku

Layang lagu tiada melangsing

Haram gemerencing genta rebana

 

Hatiku, hatiku

Hatiku sayang tiada bahagia

Hatiku kecil berduka raya

Hilang ia yang dilihatnya.

 

 

Sebab Dikau

 

Kasihkan hidup sebab dikau

Segala kuntum mengoyak kepak

Membunga cinta dalam hatiku

Mewangi sari dalam jantungku

 

Hidup seperti mimpi

Laku lakon di layar terkelar

Aku pemimpi lagi penari

Sedar siuman bertukar-tukar

 

Maka merupa di datar layar

Wayang warna menayang rasa

Kalbu rindu turut mengikut

Dua sukma esa-mesra

 

Aku boneka engkau boneka

Penghibur dalang mengatur tembang

Di layar kembang bertukar pandang

Hanya selagu, sepanjang dendang

 

Golek gemilang ditukarnya pula

Aku engkau di kotak terletak

Aku boneka engkau boneka

Penyelang dalang mengarak sajak.

 

 

Doa

 

Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?

Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik,

setelah menghalaukan panas payah terik

Angin malam menghembus lemah, menyejuk badan, melambung

rasa menanyang pikir, membawa angan ke bawah kursimu.

Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya.

Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap-malam menyirak kelopak

Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu!

 

terima kasih untuk: http://www.tengkuamirhamzah.com/id/biography


Anda sedang membaca Sajak-Sajak Terbaik Amir Hamzah
Direview oleh Lilies on | Rating: 4.5
Tags: puisi pancaran hidup karya amir hamzah » maksud sajak genta purba » makna puisi pancaran hidup » karya terbaik amir hamzah » puisi ibu karya amir hamzah » Puisi cinta amir hamzah » puisi karya penyair terkenal » kumpulan puisi amir hamzah » puisi karya amir hamzah yang terkenal » kumpulan sajak terbaik » puisi dari penyair terkenal » inspirasi amir hamzah » kumpulan puisi karya amir hamzah » puisi cinta karya amir hamzah » puisi ibu karya penulis terkenal » puisi buatan penyair terkenal » puisi ciptaan amir hamzah » makna puisi pancaran hidup dari amir hamzah » puisi ibu dari penulis terkenal » puisi cinta karya penyair terkenal » puisi dalam matamu karya amir hamzah » puisi ibu karya penyair terkenal » Puisi islami karya penyair terkenal » sajak terkenal » sajak terbaik » sajak tentang senja terbaik » sajak karya amir hamzah » sajak AKU DALAM ENGKAU » Puisi yang berjudul pancaran hidup karya amir hamzah » puisi tentang ibu dari amir hamzah » puisi karya amir hamzah » puisi pancaran hidup amir hamzah » puisi karya pujangga terkenal » puisi karya hamzah » puisi karya amir hamzah- pancaran hidup » puisi karya amir hamzah berjudul pancaran hidup » syair amir hamzah tentang cinta » Puisi bertema ibu karya penyair terkenal » puisi bertema ibu karya amir hamzah » puisi berjudul puisi senja karya amir hamzah » kumpulan puisi dari amir hamzah » kumpulan puisi bertema ibu karya sastrawan ternama » karya terkenal amir hamzah » karya tengku amir hamzah yang terkenal » karya amir hamzah yang terkenal » isi puisi pancaran hidup » isi puisi dari kumpulan puisi pancaran » contoh puisi karya amir hamzah pancaran hidup » contoh puisi karya amir hamzah » analisis semiotik dalam sajak hanya satu karya amir hamzah »

Sign up free email newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates, Enter your Email here:

Don't forget to confirm your email subcription

Leave a Reply to this Post